Apakah ini saatnya perjalananku berhenti? Bokep Jilbab/Hijab Enni tidak mau lagi mendengar alasanku. “Aku sebenarnya juga mau.”
Wah, ini luar biasa, pikirku. “Ray, aku tidak mau begini.”
“Nia, please..” kukecup bibirnya, sama sekali tidak merasakan penolakannya. ah.. “Hhh.. Nia lalu bercerita bagaimana Mas Dita (begitu dia menyebutnya) berhasil meluluhkan gunung es dalam hatinya, dan mengajaknya bertunangan kira-kira dua bulan yang lalu. Hari-hari terasa sangat berat tanpa kehadirannya, bahkan aku pun punya rasa sedih akan kehilangan seseorang (setidaknya itulah yang kupikirkan saat itu). Nia.. Anganku melayang, kujatuhkan tubuhku di tempat tidur, menunggu reaksi obat bekerja. Dan mengomeliku karena tidak pernah menghubungiku lagi sejak perpisahanku dengan Enni. nikmatnya..” Nia mengeluh kecil saat kulepas kaitan BH-nya. Waktu..Kota Xxx, Jawa Timur, 1995Kami bertengkar hebat hari itu. Waktu itu aku sedang menikmati membaca buku komik Jepang Elex Media terjemahan bahasa Indonesia (entah apa judulnya, soalnya aku tak ingin repot mengingatnya). nggak pernah ada apa-apa kan?” Aku tersenyum kepadanya.“Thanks..”
“Your welcome, Ray,” jawab gadis manis itu sebelum




















