Tapi Tante Ning belum memberi isyarat untuk itu. Tante Ning merintih pelan menyebut namaku, “Ivvvaaaannnn…..”Tanteku yang manis itu mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya. Bokep Dia bilang, seharusnya sweet seventeen dirayakan secara khusus. Lalu, mana kadonya?“Merem dong!” kata Tante Ning sambil duduk di sebelahku. Berulangkali kugelitik kelentitnya dengan ujung lidah sambil kukenyot dalam-dalam. Maka aku terus memejamkan mata rapat-rapat, sampai kurasakan Tante Ning mengecup pipiku. Dua-tiga kali Tante Ning masih bertanya lagi, apakah betul aku tidak menyesal dan tidak menganggapnya sebagai perempuan murahan. Nikmatnya sungguh tidak terkatakan. Tanpa malu-malu, aku merintih-rintih sembari mengatakan bahwa aku merasa enak luar biasa. Tante Ning kegirangan, mukaku diciuminya dengan gemas. Dia bugil di hadapanku! Maju, mundur, kiri, kanan, berputar-putar. Toketnya itu luar biasa bagus. Bibirku dilumatnya kembali, lalu lidahnya menjulur-julur menjilat-jilat. Perasaanku tidak karuan. Aku ingin membuka mata, tetapi takut. Ternyata itu memang disengaja oleh Tante Ning karena posisi begitu lebih menguntungkan aku.




















