Sekitar lima belas menit kami hanya berbaring diam melemaskan badan, mereguk sisa-sisa kenikmatan dan menghimpun tenaga.“Mandi, yuk!” ajak Dewi.Bertiga kami beralih ke kamar mandi. Perlahan-lahan jari-jariku mendekati bibir-bibir vaginanya yang telah basah itu. XNXX Tahu kan, maksudku? Nafsunya semakin melonjak mendekati orgasme.Ia semakin liar. “Yah, udah”, sahut Yen.“Keduanya udah kenalan sama Mei. Yen melirik ke arahku sambil menulis SMS di ponselnya. Dari mulutnya keluar desah-desah nikmat yang menggelora. Geletar birahi sudah melanda urat nadi seluruh tubuh mereka. Aku menggeram seperti singa lapar.Di saat itulah kurasakan spermaku menyemprot dengan derasnya ke dalam rahim Dewi. Mula-mula perlahan-lahan, lalu bergerak makin cepat. Sedotannya sungguh membawa nikmat tidak terkira.Aku menggeram, tetapi geramanku itu tertahan di buah dada Dewi yang menekan kepalaku kuat-kuat ke dadanya. Ketika aku kembali, Dewi dan Fenny sudah menantiku di pintu ruang tengah. Putih, mulus dan halus. Cantik-cantik dan mulus-mulus.




















