Cuaca ibu kota membuatku panas saat menaiki angkutan umum, bentar lagi sampai di kantor, dan aku berdiri di pintu untuk mendapat angin masuk kedalam angkot, pekerjaan di kantor aku kerjakan di rumah supaya cepat selesai dan tidak menumpuk, sambil ngalamun aku di bentak ama seseorang untuk menutup jendela yang ada disampingku,“Dik.., jangan dibuka lebar. Aku tidak menjepit tubuhnya. Bokep Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Tapi masih terhalang kain celana. Ia menyentuhnya. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Bibirnya sedang tidak terlalu sensual. Langkahku semangat lagi. Tidak terlalu ayu. Haruskah kujawab sapaan itu?Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering.




















