“Ahh.. ngnggnn.. XNXX mmhh.. hh.. It’s okay,” emosiku sedikit mereda. Kamu?”
Lalu Nia bercerita tentang bagaimana ia setelah lulus SMU, berangkat ke Jakarta untuk meneruskan kuliah D1 di sebuah universitas negeri di sana. Kubanting stir melewati kali kecil di bahu jalan, itu bukan masalah untuk Taft GT milik papaku.—————————————————Kurasakan Rena mengelus rambutku. hh..” kuraasakan keringat di permukaan perutku. Soalnya di sana satu-satunya toko buku bermutu dimana kita bisa membaca gratis. “Ah.. Raayy!” seru gadis itu tak kalah sengit. Aku jadi semakin sering menelepon Enni (kekasih pertamaku) walau hanya sekedar menceritakan betapa aku merasa sangat sendirian. “Nggak mau masuk, nih..” kataku dengan alis berkerut. Mau kemana?”
“Curhat saja, aku pingin refreshing,” sahutku sok sedih. Kami berdua tanpa terasa saling berpelukan, tertawa-tawa, membiarkan adegan tak senonoh itu dilihat orang di sekitar kami. “Ray, jadi inget waktu dulu.” Aku pun teringat. “Coba kalau begini.”
“Ahhkk..”
Kurasakan bibirnya yang menempel di dadaku.




















