Spontan aku melompat dari ranjangku. Kini aku beralih kelaci mejaku. XNXX katanya. Kini kami sampai di bibir goa yang tak seberapa dalam. Kalau tidak kami bisa sesak napas dibuatnya. Kulihat kerumunan demi kerumunan melintas memasuki gerbang pendakian. Malam menjelang, kini aku tak dapat melihat keluar goa sama sekali, yang kulihat hanyalah dinding goa yang diterangi cahaya api ungun yang temaram. Lantai goa itu tidak rata, sebagian besar dipenuhi bebatuan yang cukup besar, sehingga tidak memungkinkan kami berbaring disana, yang ada hanyalah ruang sempit seluas dua meter kali satu meter yang beralaskan tanah kering yang mengeras. gapapa mah Tomi berangkat dulu ya kataku seraya kucium pipi ibuku. Kuremas belahan pantatnya yang padat sambil terus mengimbangi lumatannya di bibirku. Tak apa-apa lah pikirku. Ketauan ya. nah ini nih ayo dong kapan, bikin jadwal.. Tubuhnya menggeliat liar. Pintanya. tanya Reni. Aku mencengkeram kuat bahu reni dari balik punggungnya. kataku.




















