Kini Lia bisa merasakan jari-jari tangan Pak Wid telah menyentuh permukaan celana dalamnya yang berenda.“Udah basah ya sayang?”, Pak Wid melepaskan bibirnya dan tersenyum kecil.Lia hanya mengangguk pelan dan mendesah. Bahkan kini ia terlihat ikut menggoyangkan pinggulnya agar lubang kenikmatannya dapat memberikan jepitan maksimal. XNXX Ya udah berkasnya kamu taruh saja dulu disini, bilang ke Pak Tio besok pagi rangkumannya akan saya serahkan langsung di ruangannya”.Wiwin lalu meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja kerja Lia, “Kalau begitu saya permisi dulu Mbak”.“Oh iya Win, kamu nggak back up datanya dalam bentuk softcopy?”.“Sudah Mbak, sudah saya taruh juga di dalam map”.“Kalau begitu makasi ya…”.“Sama-sama Mbak”, kemudian Wiwin melemparkan senyum ke arah Pak Wid. Jari-jari itu terlihat melakukan tugasnya dengan baik, sehingga membuat tonjolan yang ada disana menjadi semakin menggunung.“Jangan dibuka Pak, nanti nggak keburu makenya”, Lia menghentikan usaha atasannya yang hendak membuka kancing kemeja begitu ia selesai melepaskan blazer yang dipakainya.Terlihat ekspresi kekecewaan di wajah Pak Wid yang terlihat




















