Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Bokep Tetapi berlari. Aku memegang teteknya. Kuusap sisa cream. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas.Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Sebantar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.”Aku langsung beres-beres dan pulang.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Aku tidak berpakaian kini. Ke bawah: Tidak. Aku dipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Ke bawah: Tidak. Keberuntungankah? Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh.Sekarang hitung penumpang angkot dan supir.




















