Jadi aku bisa bebas menyentuh dada dan kewanitaannya. Bokep Pak Rochim? Aku tertarik untuk membacanya lagi nanti. “Bau, tahu?! Ceritanya benar-benar vulgar. Aku menikmati saja. Saat mataku melihat lemari Kak Tina yang terbuka (biasanya
selalu dikunci), aku tergerak untuk mencari novel yang
disembunyikannya. Ternyata Kak Tina tidak terpengaruh. Otakku sudah tak mampu
lagi membaca. Langsung
saja kemaluanku membesar, meradang di balik celana seragamku. Kubaca bagian depannya, aku memutuskan untuk tidak tertarik membacanya. Walaupun masih terhalang oleh pakaiannya. Kak Tina nafasnya tak teratur
saat membaca bagian yang menceritakan permainan cinta Marisa dengan
beberapa laki-laki. Aku bersemu merah. Aku? Aku baru
ingat, kalau Bu Rochim ada acara di Dinas Pertanian. Baunyapun beda, seperti bau akasia. Kak Tina menatapku. Kak Tina mengambil novelnya, hendak menyimpannya di
dalam lemari. Mengeluarkan sapi dan menambatkannya di kebun
belakang rumah, lalu kemudian mengisi bak mandi. “Mulai sekarang, hati-hati bergaul” Katanya.




















