Aku duduk di tepi dipan. Lalu pijitan turun ke bawah. Bokep Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Aku tidak berpakaian kini. Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Aku tidak berpakaian kini. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”
“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.“Saya juga tidak suka angin kencang-kencang.




















